Warga Pangandaran, sebuah kota pesisir di Jawa Barat, Indonesia, telah menyuarakan keprihatinannya kepada Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) atas lemahnya kesiapsiagaan bencana di wilayah mereka.
Pangandaran tidak asing dengan bencana alam, karena terletak di zona risiko tinggi terjadinya gempa bumi, tsunami, dan bencana alam lainnya. Namun, meskipun ada risiko yang diketahui, banyak warga yang merasa bahwa pemerintah daerah belum mengambil tindakan yang memadai untuk bersiap menghadapi potensi bencana.
Salah satu kekhawatiran utama yang disampaikan warga adalah kurangnya sistem peringatan dini. Meskipun ada beberapa sirene yang dipasang di sepanjang pantai, sering kali sirene tersebut tidak berfungsi dengan baik atau tidak cukup keras untuk terdengar di seluruh penjuru kota. Hal ini menimbulkan risiko serius bagi warga yang mungkin tidak menerima peringatan tepat waktu jika terjadi bencana.
Persoalan lain yang diangkat warga adalah minimnya jalur evakuasi dan shelter. Jika terjadi tsunami atau gempa bumi, banyak warga yang tidak yakin ke mana harus mencari keselamatan, karena hanya sedikit tempat pengungsian yang tersedia di wilayah tersebut. Kurangnya kesiapsiagaan dapat mengakibatkan kekacauan dan kebingungan saat terjadi bencana, sehingga membahayakan nyawa.
Selain itu, warga juga menyatakan keprihatinannya atas kurangnya pendidikan dan pelatihan mengenai kesiapsiagaan bencana. Banyak warga yang tidak mengetahui apa yang harus dilakukan jika terjadi bencana, dan umumnya kurangnya kesadaran mengenai langkah-langkah keselamatan dan prosedur evakuasi. Tanpa pendidikan dan pelatihan yang layak, warga menjadi rentan dan tidak siap menghadapi potensi bencana.
Menanggapi kekhawatiran tersebut, BPBD menyatakan bahwa mereka mengetahui permasalahan yang diangkat warga dan berupaya mengatasinya. Mereka berjanji untuk meningkatkan sistem peringatan dini, membangun lebih banyak jalur evakuasi dan tempat penampungan, dan memberikan lebih banyak pendidikan dan pelatihan mengenai kesiapsiagaan bencana kepada masyarakat.
Namun, warga tetap skeptis dan menyerukan tindakan lebih konkrit. Mereka mendesak pemerintah daerah untuk memprioritaskan kesiapsiagaan bencana dan menginvestasikan lebih banyak sumber daya untuk memastikan keselamatan dan keamanan masyarakat.
Pada akhirnya, kekhawatiran yang disampaikan warga Pangandaran menyoroti pentingnya kesiapsiagaan bencana di daerah berisiko tinggi. Penting bagi pemerintah daerah untuk mendengarkan suara komunitasnya dan mengambil tindakan proaktif untuk melindungi penduduknya dari potensi bencana. Dengan bekerja sama, warga dan pihak berwenang dapat menciptakan komunitas yang lebih aman dan tangguh untuk semua.
